masukan kata kunci

Jumat, 20 September 2013

keterangan unsur K (Kalium) dan Ag (perak)

Kalium

·         KETERANGAN UNSUR:
o    Simbol: K
o    Radius Atom: 2.35 Å
o    Volume Atom: 45.3 cm3/mol
o    Massa Atom: 39.0983
o    Titik Didih: 1033 K
o    Radius Kovalensi: 2.03 Å
o    Struktur Kristal: bcc
o    Massa Jenis: 0.86 g/cm3
o    Konduktivitas Listrik: 16.4 x 106 ohm-1cm-1
o    Elektronegativitas: 0.82
o    Konfigurasi Elektron: [Ar]4s1
o    Formasi Entalpi: 2.33 kJ/mol
o    Konduktivitas Panas: 102.5 Wm-1K-1
o    Potensial Ionisasi: 4.341 V
o    Titik Lebur: 336.8 K
o    Bilangan Oksidasi: 1
o    Kapasitas Panas: 0.757 Jg-1K-1
o    Entalpi Penguapan: 76.9 kJ/mol

Sejarah
(Inggris, potasium; Latin, kalium, Arab, qali, alkali). Ditemukan oleh Davy pada tahun 1807, yang mendapatkannya dari caustic potash(KOH). Ini logam pertama yang diisolasi melalui elektrolisis. Dalam bahasa Inggris, unsur ini disebut potassium.
Sumber
Logam ini merupakan logam ketujuh paling banyak dan terkandung sebanyak 2.4% (berat) di dalam kerak bumi. Kebanyakan mineral kalium tidak terlarut dalam air dan unsur kalium sangat sulit diambil dari mineral-mineral tersebut.
Mineral-mineral tertentu, seperti sylvite, carnalite, langbeinite, danpolyhalite ditemukan di danau purba dan dasar laut yang membentuk deposit dimana kalium dan garam-garamnya dengan mudah dapat diambil. Kalium ditambang di Jerman, negara bagian-negara bagian New Mexico, California, dan Utah. Deposit besar yang ditemukan pada kedalaman 3000 kaki di Saskatchewan, Kanada diharapkan menjadi tambang penting di tahun-tahun depan.
Kalium juga ditemukan di samudra, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit ketimbang natrium.
Produksi
Kalium tidak ditemukan tersendiri di alam, tetapi diambil melalui proses elektrolisis hidroksida. Metoda panas juga lazim digunakan untuk memproduksi kalium dari senyawa-senyawa kalium dengan CaC2, C, Si, atau Na.
Kegunaan
Permintaan terbanyak untuk kalium adalah untuk pupuk. Kalium merupakan bahan penting untuk pertumbuhan tanaman dan ditemukan di banyak tanah. Campuran logam natrium dan kalium (NaK) digunakan sebagai media perpindahan panas. Banyak garam-garam kalium seperti hidroksida, nitrat, karbonat, klorida, klorat, bromida, ioda, sianida, sulfat, kromat dan dikromat sangat penting untuk banyak kegunaan.
Sifat-sifat
Unsur ini sangat reaktif dan yang paling elektropositif di antara logam-logam. Kecuali litium, kalium juga logam yang sangat ringan. Kalium sangat lunak, dan mudah dipotong dengan pisau dan tampak keperak-perakan pada permukaan barunya. Elemen ini cepat sekali teroksida dengan udara dan harus disimpan dalam kerosene (minyak tanah). Seperti halnya dengan logam-logam lain dalam grup alkali, kalium mendekomposisi air dan menghasilkan gas hidrogen. Unsur ini juga mudah terbakar pada air. Kalium dan garam-garamnya memberikan warna ungu pada lidah api.
Isotop
17 isotop kalium telah diketahui. Kalium normal mengandung 3 isotop, yang satu pada 40 derajat Kelvin (.0118%) merupakan isotop radioaktif dengan paruh waktu 1.28 x 109 tahun.
Penanganan
Radioaktivitas yang ada pada kalium tidak terlalu berbahaya.

Perak

·         KETERANGAN UNSUR:
·         Simbol: Ag
·         Radius Atom: 1.44 Å
·         Volume Atom: 10.3 cm3/mol
·         Massa Atom: 107.868
·         Titik Didih: 2436 K
·         Radius Kovalensi: 1.34 Å
·         Struktur Kristal: fcc
·         Massa Jenis: 10.5 g/cm3
·         Konduktivitas Listrik: 62.9 x 106 ohm-1cm-1
·         Elektronegativitas: 1.93
·         Konfigurasi Elektron: [Kr]4d10 5s1
·         Formasi Entalpi: 11.3 kJ/mol
·         Konduktivitas Panas: 429 Wm-1K-1
·         Potensial Ionisasi: 7.576 V
·         Titik Lebur: 1235.08 K
·         Bilangan Oksidasi: 1
·         Kapasitas Panas: 0.235 Jg-1K-1
·         Entalpi Penguapan: 250.63 kJ/mol

Sejarah
(Anglo-Saxon, Seolfor siolfur; Latin argentum). Perak telah dikenal sejak jaman purba kala. Unsur ini disebut dalam Alkitab. Beberapa tempat buangan mineral di Asia Minor dan di pulau-pulau di Laut Aegean mengindikasikan bahwa manusia telah belajar memisahkan perak dari timah sejak 3000 SM.

Sumber-sumber
Perak muncul secara alami dan dalam bijih-bijih argentite (Ag2S) dan horn silver (AgCl). Bijih-bijih timah, timbal-timah, tembaga, emas dan perunggu-nikel merupakan sumber-sumber penting untuk menambang perak. Di dunia belahan barat Meksiko, Kanada, Peru dan Amerika Serikat merupakan negara-negara penghasil perak.

Produksi
Perak juga dapat diambil dalam proses pemurnian tembaga secara elektrolisis. Perak yang dijual secara komersil mengandung setidaknya 99.9% perak. Perak murni dengan kandungan 99.999+% juga tersedia secara komersil.

Sifat-sifat
Perak murni memiliki warna putih yang terang. Unsur ini sedikit lebih keras dibanding emas dan sangat lunak dan mudah dibentuk, terkalahkan hanya oleh emas dan mungkin palladium. Perak murni memiliki konduktivitas kalor dan listrik yang sangat tinggi diantara semua logam dan memiliki resistansi kontak yang sangat kecil. Elemen ini sangat stabil di udara murni dan air, tetapi langsung ternoda ketika diekspos pada ozon, hidrogen sulfida atau udara yang mengandung belerang. 

Kegunaan
Perak sterling digunakan untuk perhiasan, perabotan perak, dsb. dimana penampakan sangat penting. Campuran logam ini biasanya mengandung 92.5% perak, dengan sisanya tembaga atau logam lainnya. Perak juga merupakan unsur penting dalam fotografi, dimana sekitar 30% konsumsi industri perak digunakan untuk bidang ini. Perak juga digunakan sebagai campuran logam pengganti gigi, solder, kotak listrik, dan baterai perak-timah dan perak-cadmium. Cat perak digunakan untuk membuat sirkuit cetak. Perak juga digunakan untuk produksi kaca dan dapat didepositkan sebagai lapisan pada gelas atau logam lainnya dengan metoda chemical deposition, electrode position atau dengan cara penguapan. Ketika perak baru saja didepositkan, lapisan ini merupakan reflektor cahaya paling baik. Tapi lapisan ini juga cepat rusak dan ternoda dan kehilangan reflektivitasnya. Walau lapisan perak bagus untuk cahaya, ia sangat buruk untuk memantulkan sinar ultraviolet. Silver fulminate, bahan peledak yang kuat, kadang-kadang terbentuk saat pembentukan perak. Silver iodide digunakan untuk membuat hujan buatan. Silver chloride memiliki sifat-sifat optikal yang unik karena bisa dibuat transparan. Silver nitrate, atau lunar caustic, yang merupakan senyawa perak yang penting banyak digunakan di bidang fotografi. Selama beratus-ratus tahun, perak telah digunakan sebagai bentuk pembayaran dalam bentuk koin oleh banyak negara. Belakangan ini sayangnya, konsumsi perak telah jauh melebihi produksi.

Penanganan
Walau unsur perak itu sendiri tidak beracun, banyak senyawa garamnya sangat berbahaya. Exposisi pada perak (baik logam maupun senyawa-senyawanya yang dapat larut) di udara jangan sampai melebihi 0.01 g/m3 (berdasarkan 8 jam berat rata-rata, selama 40 jam per minggu). Senyawa-senyawa perak dapat diserap dalam sistim sirkulasi tubuh dan hasil reduksi perak dapat terdepositkan pada banyak jaringan tubuh. Sebuah kondisi (argyria) dapat menimbulkan pigmen-pigmen abu-abu pada kulit tubuh dan selaput-selaput mucous. Perak memiliki sifat-sifat yang dapat membunuh bakteri tanpa membahayakan binatang-binatang besar.

sumber: www.chem-si-try.org


Selasa, 12 Februari 2013

Material Safety Data Sheet (MSDS)


I.                    Material Safety Data Sheet (MSDS)

1.       Asam Klorida (HCl)
HCl sangat korosif. Uap HCl bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Kontak fisik dengan asam yang satu ini harus dihindari, karena akan menyebabkan iritasi berat.
·         Keadaan fisik dan kimia
1.       Keadaan fisik             : cair
2.       Bau                                : beraroma tajam
3.       Molekul berat           : tidak dipakai
4.       Warna                           : tak berwarna ke kuning muda
5.       PH                                  : asam
6.       Titik didih                     : 108,58⁰C @760mmHg
7.       Titik lebur                    : -62,25⁰C (-80⁰F)
8.       Tekanan uap              : 16 kPa (@20⁰C)
9.       Kelarutan                    : larut dalam air dingin, air panas, dietil eter
·         Bahaya reaktivitas
Stabil dibawah kondisi biasa penggunaan dan penyimpanan. Tidak polimerisasi. Tidak kompatibel dengan paduan aluminium dan aluminium.
·         Bahaya kesehatan
-inhalasi               : menyebabkan iritasi parah disaluran pernapasan bagian atas
-konsumsi           : menelan HCl menyebabkan luka bakar pada tenggorokan, mulut, kerongkongan, dan saluran pencernaan
-kontak kulit       : menyebabkan luka bakar kemerahan dan nyeri kulit
·         Pencegahan
-inhalasi               : bawa ke tempat udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan, panggil dokter.
-konsumsi           : jangan berusaha untuk memuntahkan. Berikan besar kuantitas air/susu magnesium. Jangan memberikan apapun melalui mulut. Mendapat perhatian medis segera.
Kontak  mata     : terus siram mata dengan air dalam jumlah besar minimal 20 menit.jika iritasi berlanjut hubungi dokter.

2.       Asam Sulfat (H2SO4)
·         Sifat fisik dan kimia
1.       Keadaan fisik             : cair (tebal cair berminyak)
2.       Rasa                               : rasa asam marked
3.       Berat molekul            : 98,08 g/mol
4.       Warna                           : tidak berwarna
5.       PH                                  : asam
6.       Titik didih                     : 270⁰C (518⁰F)
7.       Titik leleh                     : -35⁰C (-31⁰F)
8.       Berat jenis cairan     : 1,84
9.       Tekanan uap              : tidak tersedia
10.   Kelarutan                    : mudah  larut dalam air dingin
·         Bahaya
Potensi efek kesehatan akut, berbahaya dalam kasus kontak kulit dan kontak mata. Cair atau kabut semprotan menghasilkan kerusakan jaringan terutama pada selaput lendir mata, mulut, dan pernapasan. Terkena kulit menghasilkan luka bakar. Inhalasi kabut semprotan dapat mengakibatkan iritasi pernapasan. Peradangan mata ditandai dengan kemerahan, berair dan gatal-gatal. Radang kulit ditandai dengan gatal dan kemerahan.
·         Cara penanganan
-kontak mata     : segera siram mata dengan banyak air selama 15 menit dengan air dingin serta segera mendapat perhatian medis.
-kontak kulit       : segera siram kulit dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Cuci dengan sabun disenfektan dan menutupi kulit yang terkontaminasi dengan krim anti bakteri. Carilah segera perhatian medis.
-inhalasi               : mengevakuasi korban ke daerah yang aman sesegera mungkin, kendurkan pakaian ketat seperti ikat pinggang, kerah dasi, jika sulit bernapas berikan oksigen. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan.
-tertelan              : jangan memberikan apapun melalui mulut kecuali diarahkan melakukannya oleh tenaga medis. Jangan memberikan apapun melalui mulut ke bawah sadar orang.

3.       Natrium Hidroksida (NaOH)
·         Sifat fisik dan kimia
1.       Bentuk                         : solid
2.       Penampilan                : pelet putih
3.       Bau                                : berbau
4.       PH                                  : 14
5.       Tekanan uap              : 1 mmHg @739⁰C
6.       Titik didih                     : 139⁰C @ 760mmHg
7.       Titik lebur                    : 318⁰C
8.       Kelarutan                    : larut
9.       Formula molekul      : NaOH
10.   Berat molekul            : 40

·         Bahaya
-mata : dapat menyebabkan kebutaan dan kerusakan pada kornea mata
-kulit : dapat menyebabkan kulit terbakar
-tertelan : dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan
-terhirup : dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan kronis berkepanjangan atau kontak kulit berulang dapat menyebabkan dematitis
·         Cara penanganan
-mata : segera siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit dan segera mendapat perhatian dokter.
-kulit : segera siram kulit dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit.
-tertelan : jika tertelan jangan dimuntahkan mendapat bantuan medis segera. Jika korban sepenuhnya sadar berikan satu mangkuk air. Jangan memberikan apapun ke mulut orang sadar.
-inhalasi : jika dihirup, lepaskan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas berikan oksigen dan dapatkan bantuan medis.



Kamis, 24 Januari 2013

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1


LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR 1
JUDUL PRAKTIKUM : KETERAMPILAN DASAR DI LABORATORIUM

WINDA SOFIHAN
3325120252
KELOMPOK 3



JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012








Percobaan 1
Keterampilan Dasar di Laboratorium

I.                    Tujuan Percobaan

a.       Mengenalkan beberapa macam alat yang sederhana dan penggunaannya.
b.      Memahami dan mengerti teknik dasar percobaan di laboratorium.
c.       Dapat membuat dan mengenal suatu gas
-          Mengetahui sesuatu gas dari baunya
-          Mengetahui cara yang tepat dalam membaui suatu gas.
-          Mengetahui sifat gas berdasarkan perubahan warna pada kertas lakmus.
d.      Mengetahui dan dapat melakukan pengenceran larutan.
e.      Dapat melakukan pemisahan endapan dari suatu larutan dengan metode penyaringan.
f.        Dapat menetukan banyaknya asam dan basa dengan cara titrasi asam basa.


II.                  Teori dan Prinsip Percobaan
Laboratorium kimia merupakan sarana penting untuk pendidikan, penelitian, pelayanan, dan uji mutu (quality control). Mengingat perbedaan fungsi tersebut, maka berbeda pula dalam desain, fasilitas, dan penggunaan bahan serta prioritas peralatan yang diperlukan. Walaupun demikian, apabila ditinjau dari aspek keselamatan kerja, laboratorium mempunyai bahaya besar yang sama sebagai akibat penggunaan bahan kimia dan tekniknya. Berikut ini akan diperkenalkan beberapa alat sederhana dan penggunaanya.
No
Nama Alat
Keterangan dan Fungsi
Gambar
1.
Tabung Reaksi
Keterangan:
-terbuat dari gelas
-dapat dipanaskan
Fungsi:
Untuk mereaksikan zat-zat kimia dalam jumlah sedikit,baik padat maupun cair
 
2.
Penjepit
Keterangan:
-terbuat dari kayu atau logam
Fungsi:
Untuk menjepit tabung reaksi pada pemanasan/mengambil cairan dalam keadaan panas
 
3.
Rak Tabung Reaksi
Keterangan:
-terbuat dari kayu atau logam
Fungsi:
Untuk menempatkan tabung reaksi
 
4.
Pengaduk
Keterangan:
Terbuat dari gelas
Fungsi:
Untuk mengaduk suatu campuran atau larutan dipakai juga untuk membantu pada saat menuangkan cairan dalam proses penyaringan atau pemindahan dari suatu wadah ke wadah lain
 
5.
Corong
Keterangan:
Terbuat dari gelas
Fungsi:
Untuk membantu pada saat memasukkan cairan kedalam suatu tempat yang mulutnya seperti labu ukur, botol buret dan sebagainya, juga untuk membantu dalam penyaringan
 
6.
Pipa Bengkok
Keterangan:
Terbuat dari gelas
Fungsi:
Untuk mengalirkan ke dalam suatu tempat tertutup atau kedalam larutan

7.
Gelas Arloji
Fungsi:
-untuk tempat menimbang zat yang berbentuk kristal dan tidak higroskopis
-untuk menguapkan larutan dalam jumlah sedikit
 
8.
Gelas Ukur
Keterangan:
Jangan digunakan untuk mengukur larutan yang panas
Fungsi:
-untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair
-mempunyaa skala terdiri dari bermacam-macam ukuran
 
9.
Gelas Piala/ gelas beaker
Keterangan:
Bukan alat pengukur (walaupun volume kira-kira)
Fungsi:
-tempat larutan
-untuk memanaskan (untuk menguapkan pelarut/memekatkan)
 
10.
Erlenmeyer
Keterangan:
Terbuat dari gelas
Fungsi:
-sebagai tempat larutan zat yang akan ditritasi
-untuk memanaskan larutan
 
11.
Labu Ukur
Keterangan:
-terbuat dari gelas
-mempunyai berbagai ukuran
Fungsi:
Untuk membuat larutan standar atau larutan tertentu dengan volume setepat mungkin
-untuk pengenceran dengan volume tertentu
 
12.
Buret
Keterangan:
-terbuat dari gelas
-mempunyai skala dan  keran
Fungsi:
Untuk titrasi atau sabagai tempat titrant yang dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui kran
 
13.
a. pipet gondok
Keterangan:
-bagian tengah dari pipet ini membesar
-ujungnya runcing
Fungsi:
Untuk mengambil larutan dengan volume tertentu dan tepat
 

b. pipet ukur
Keterangan:
Bagian tengah dari pipet ini sama besar (lurus)
-mempunyai skala
Fungsi:
Untuk mengambil larutan dengan volume tertentu
 

c. pipet tetes
Digunakan untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit
 
14.
Cawan Penguap
Keterangan:
Terbuat dari porselen, untuk menguapkan suatu larutan
 
15.
Botol Pencuci
Keterangan:
-terbuat dari plastik
-dilengkapi dengan pipa
-mempunyai skala
 
16.
Kasa Asbes
Keterangan:
-terbuat dari kawat/seng
-ditengahnya berlapis asbes
Fungsi:
Sebagai alas pada pemanasan alat-alat kaca yang berisi cairan atau larutan dengan maksud agar panasnya merata
 
17.
Segitiga Porselen
Keterangan:
Terbuat dari keramik
Fungsi:
Digunakan sebagai penopang cawan porselen yang akan dipanaskan diatas kaki tiga
 
18.
Kaki Tiga
Keterangan:
-terbuat dari besi
-merupakan alat penopang kasa asbes atau segitiga porselen yang ditumpangi alat kaca atau cawan porselen yang akan di panaskan
Fungsi:
Diantara ketiga kakinya, dapat ditempatkan pembakar bunsen atau alat pemanas lainnya
 
19.
Statif
Keterangan:
Terbuat dari besi
Fungsi:
Digunakan sebagai  alat penyangga buret dengan bantuan klem buret
 

                Agar mengerti tentang alat-alat yang sudah diperkenalkan tersebut, maka akan dilakukan percobaan, yang terpenting adalah bagaimana menggunakan alat-alat tersebut dengan baik dan bekerja benar.
1.       Pembuatan dan Pengenalan Suatu Gas
Gas NH3 adalah gas yang berbau menyengat. Gas ini dapat dihasilkan dengan mereaksikan larutan ammonium klorida dan natrium hidroksida yang kemudian dipanaskan. Adapun reaksinya adalah:
NH4Cl (s) + NaOH (aq)  dipanaskan  NH3 (g) + NaCl (aq) + H2O (l)
        Terbentuknya  gas dapat diketahui dari baunya. Dalam membaui tidak diperkenankan menghirup langsung gas yang berbahaya. Cara membaui adalah dengan mengipas-ngipaskan tangan di atas mulut tabung dan hidung berada pada jarak yang relatif jauh. Sementara untuk mengetahui sifat gas tersebut, latakkan kertas lakmus merah dan biru pada permukaan tabung. Namun, berdasarkan referensi-referensi yang ada, gas NH3 tergolong ke dalam sifat “basa”.
2.       Pengenceran dengan Labu Ukur
Untuk membuat suatu larutan standar, kita dapat melakukan percobaan pengenceran dimana dilakukan penambahan pelarut kedalam larutan yang akan diencerkan. Proses pengenceran merupakan suatu prosedur untuk menghasilkan larutan yang lebih encer dari larutan yang pekat agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Akan tetapi, kita perlu terlebih dahulu menentukan berapa banyak larutan standar yang akan dibuat dan hitung berapa banyak larutan asli yang harus diencerkan dengan menggunakan rumus persamaan:
Keterangan:
V1 = Volume larutan asli yang diperlukan      V2 = Volume larutan standar yang akan dibuat
M1 = Molaritas larutan asli                                   M2 = Molaritas larutan standar yang akan dibuat
        Dalam melakukan proses pengenceran, perlu bahwa penambahan lebih banyak pelarut ke dalam sejumlah tertentu larutan akan mengubah (mengurangi) konsentrasi larutan tanpa mengubah jumlah mol zat terlarut yang terdapat dalam larutan.
3.       Pengenceran H2SO4 Pekat
Untuk zat-zat yang jika direaksikan akan menunjukan reaksi ekstrem seperti pada asam sulfat (H2SO4) pekat, maka pengenceran dilakukan dengan menuangkan H2SO4 (sebagai zat yang akan diencerkan) pekat sedikit demi sedikit ke dalam air (pelarut).
4.       Penyaringan
Menyaring merupakan salah satu metode pemisahan, yaitu cara untuk memisahkan suatu endapan dari suatu larutan. Dalam percobaan ini akan dilakukan penyaringan PbSO4 yang dibuat dengan mereaksikan larutan H2SO4 dengan Pb-Asetat. Adapun reaksinya:
Pb(CH3COO)2 (aq) + H2SO4 (aq)                 PbSO4 (s) + 2 CH3COOH (aq)
5.       Titrasi Asam Basa
Titrasi asam basa merupakan suatu reaksi penetralan yang menghasilkan garam dan air. Pada tritasi larutan basa menggunakan larutan standar asam (Asidimetri) dan sebaliknya. Pada titrasi larutan asam menggunakan larutan standar basa (Alkalimetri). Prosedur analisis pada titrasi asam basa ini adalah dengan mengukur volume dari asam basa yang bereaksi sehingga proses ini disebut titrasi volumetri.
Tujuan tritasi adalah untuk menentukan banyaknya asam atau basa yang secara kimia tepat ekuivalen (setara) dengan banyaknya basa atau asam di dalam larutan. Selain itu titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titrant ditambahkan titer tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi) yang biasanya ditandai perubahan warna indikator seperti indikator PP, Metil Merah, Metil Jingga, Bromtimol Biru, dll.
Text Box: VA . MA . nA = VB . MB . nBKeadaan ini disebut “titik ekuivalen” yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa  = . Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator yang disebut “titik akhir titrasi”. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan rumus titrasi asam basa, yaitu:


Keterangan:
VA = Volume asam                          VB = Volume basa
MA = Konsentrasi asam                                MB = Konsentrasi basa
 nA= Valensi asam                           nB = Valensi basa
A.      Label dan Penyimpanan Bahan Kimia
Pemberian label terhadap jenis – jenis bahan kimia diperlukan untuk dapat mengenal dengan cepat dan mudah sifat bahaya dari suatu bahan kimia. Pengenalan dengan label ini  amat penting dalam penanganannya, transportasi dan penyimpanan bahan-bahan atau pergudangan. Cara penyimpanan bahan-bahan kimia memerlukan pengetahuan dasar akan sifat bahaya serta kemungkinan interaksi antara bahan serta kondisi yang mempengaruhinya.
LABEL ATAU SIMBOL BAHAYA
·         Mudah Meledak (EXPLOSIVE)
Bahaya : eksplosif pada kondisi tertentu
Keamanan: hindari benturan, gesekan, loncatan api dan panas
Penyimpanan: ruangan dingin dan berventilasi
Contoh: ammonium nitrat, nitroselulosa
·         Pengoksidasi (OXIDIZING AGENT)
Bahaya: oksidator,dapat membakar bahan lain, penyebab timbulnya api atau penyebab kesulitan dalam pemadaman api
Keamananan: hindari panas serta bahan mudah terbakar dan reduktor
Penyimpanan: suhu ruangan dingin berventilasi
Contoh: H2O2 dan Kalium Perklorat
·         Mudah Terbakar (FLAMMABLE)
1.       Zat terbakar langsung
Contoh: Aluminium alkil posfor
Keamanan: hindari campuran dengan udara
2.       Gas amat mudah terbakar
Contoh: Butana, propana
Keamanan: hindari campuran dengan udara dan sumber api
3.       Zat sensitif terhadap air
Zat membentuk gas mudah terbakar bila kena air atau uap. Contoh: Natrium
4.       Cairan mudah terbakar
Cairan dengan flash point dibawah 21⁰C. Contoh: aseton dan benzena
Keamanan: jauhkan dari api terbuka, sumber api dan loncatan api.
·         Beracun (TOXIC)
Bahaya: berbahaya bagi kesehatan bila terisap, tertelan, atau kontak dengan kulit, dan juga dapat mematikan
Keamanan: hindari kontak atau masuk kedalam tubuh, segera berobat ke dokter bila kemungkinan beracun
Contoh: Arsen triklorida, Merkuri klorida
·         Berbahaya (HARMFULL)
Bahaya: menimbulkan kerusakan kecil pada tubuh
Keamanan: hindari kontak dengan tubuh atau hindari penghirupan, segera berobat bila terkena bahan
Contoh: piridin
·         Korosif (CORROSIVE)
Bahaya: korosif atau merusak jaringan atau tubuh manusia
Contoh: belerang dioksida dan klor
Keamanan: hindari kontaminasi pernapasan, kontak dengan kulit dan mata
Penyimpanan: ruangan dingin berventilasi , wadah tertutup dan bertiket
·         Pengiritasi (IRRITANT)
Bahaya: iritasi terhadap kulit, mata, dan alat pernapasan
Contoh: Amonia dan benzil klorida
Keamananan: hindari kontaminasi udara, pernapasan kontak dengan kulit dan mata

B.      Syarat-syarat Penyimpanan Bahan
Mengingat bahaya sering terjadi kebakaran, ledakan atau bocornya bahan-bahan kimia beracun dalam gudang, maka penyimpanan bahan-bahan kimia beberapa kemungkinan dibawah ini perlu diperhatikan.
a.       Pengaruh panas/api
Kenaikan suhu akan menyebabkan reaksi atau perubahan kimia terjadi dan mempercepat reaksi. Juga percikan api berbahaya untuk bahan-bahan mudah terbakar.
b.      Pengaruh kelembaban
Zat-zat higroskopis mudah menyerap uap air dari udara dan reaksi hidrasi yang eksotennis menimbulkan pemanasan ruang.
c.       Interaksi dengan wadah
Bahan kimia dapat berinteraksi dengan wadahnya dan bocor
d.      Interaksi antar bahan
Kemungkinan interaksi antar bahan dapat menimbulkan ledakan, kebakaran atau timbulnya gas beracun.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor diatas, beberapa syarat penyimpanan bahan secara singkat adalah sebagai berikut:
1.       Bahan beracun
Contoh : Sianida
Syarat penyimpanan: ruangan dingin dan berventilasi, jauh dari bahaya kebakaran, dipisahkan dari bahan – bahan yang mungkin bereaksi, disediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, gloves.
2.       Bahan korosif
Contoh: asam-asam
Syarat penyimpanan: ruangan dingin dan berventilasi, wadah terrtutup dan bertikiket, dipisahkan dari zat-zat beracun.
3.       Bahan mudah terbakar
contoh: benzena, eter
syarat penyimpanan: suhu dingin dan  berventilasi, jauhkan dari sumber api atau panas, terutama loncatan api, listrik, dan bara rokok, tersedian alat pemadam kebakaran.
4.       Bahan mudah meledak
Contoh: Ammonium nitrat
Syarat penyimpanan: ruangan dingin dan berventilasi, jauhkan dari sumber api atau panas, hindarkan dari gesekan dan tumbukan mekanis
5.       Bahan oksidator
Contoh: Peroksida organic
Syarat penyimpanan: suhu ruangan dingin dan berventilasi, jauhkan dari sumber api dan panas termasuk loncatan api, listrik dan bara rokok, jauhkan dari bahan-bahan cairan mudah terbakar atau reduktor
6.       Bahan reaktif terhadap air
Contoh: Natrium
Syarat penyimpanan: suhu ruangan dingin, kering dan berventilasi, jauh dari sumber panas , bangunan kedap air, disediakan pemadam kebakaran tanpa air (CO2, Halon, dry powder)
7.       Bahan reaktif terhadap asam
Contoh: Natrium, Hibrida, asam. Zat-zat tersebut kebanyakan dengan asam menghasilkan gas yang mudah terbakar atau beracun
Syarat penyimpanan: ruangan dingin berventilasi, jauhkan dari sumber api, panas, dan asam, ruangan penyimpananperlu didesain agar tidak memungkinkan terbentuk kantong-kantong hidrogen. Disediakan alat pelindung diri seperti kacamata, gloves, dan pakaian kerja.
8.       Gas bertekanan
Contoh:   gas N2, Asetilen, H2, dan Cl2 dalam silinder
Syarat penyimpanan: disimpan dalam keadaan tegak berdiri dan terikat, ruangan dingin dan tidak terkena langsung matahari, jauhkan dari api dan panas, jauh dari bahaya korosif yang dapat merusak kran dan katub-katub.