masukan kata kunci

Memuat...

Kamis, 24 Januari 2013

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1


LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR 1
JUDUL PRAKTIKUM : KETERAMPILAN DASAR DI LABORATORIUM

WINDA SOFIHAN
3325120252
KELOMPOK 3



JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012








Percobaan 1
Keterampilan Dasar di Laboratorium

I.                    Tujuan Percobaan

a.       Mengenalkan beberapa macam alat yang sederhana dan penggunaannya.
b.      Memahami dan mengerti teknik dasar percobaan di laboratorium.
c.       Dapat membuat dan mengenal suatu gas
-          Mengetahui sesuatu gas dari baunya
-          Mengetahui cara yang tepat dalam membaui suatu gas.
-          Mengetahui sifat gas berdasarkan perubahan warna pada kertas lakmus.
d.      Mengetahui dan dapat melakukan pengenceran larutan.
e.      Dapat melakukan pemisahan endapan dari suatu larutan dengan metode penyaringan.
f.        Dapat menetukan banyaknya asam dan basa dengan cara titrasi asam basa.


II.                  Teori dan Prinsip Percobaan
Laboratorium kimia merupakan sarana penting untuk pendidikan, penelitian, pelayanan, dan uji mutu (quality control). Mengingat perbedaan fungsi tersebut, maka berbeda pula dalam desain, fasilitas, dan penggunaan bahan serta prioritas peralatan yang diperlukan. Walaupun demikian, apabila ditinjau dari aspek keselamatan kerja, laboratorium mempunyai bahaya besar yang sama sebagai akibat penggunaan bahan kimia dan tekniknya. Berikut ini akan diperkenalkan beberapa alat sederhana dan penggunaanya.
No
Nama Alat
Keterangan dan Fungsi
Gambar
1.
Tabung Reaksi
Keterangan:
-terbuat dari gelas
-dapat dipanaskan
Fungsi:
Untuk mereaksikan zat-zat kimia dalam jumlah sedikit,baik padat maupun cair
 
2.
Penjepit
Keterangan:
-terbuat dari kayu atau logam
Fungsi:
Untuk menjepit tabung reaksi pada pemanasan/mengambil cairan dalam keadaan panas
 
3.
Rak Tabung Reaksi
Keterangan:
-terbuat dari kayu atau logam
Fungsi:
Untuk menempatkan tabung reaksi
 
4.
Pengaduk
Keterangan:
Terbuat dari gelas
Fungsi:
Untuk mengaduk suatu campuran atau larutan dipakai juga untuk membantu pada saat menuangkan cairan dalam proses penyaringan atau pemindahan dari suatu wadah ke wadah lain
 
5.
Corong
Keterangan:
Terbuat dari gelas
Fungsi:
Untuk membantu pada saat memasukkan cairan kedalam suatu tempat yang mulutnya seperti labu ukur, botol buret dan sebagainya, juga untuk membantu dalam penyaringan
 
6.
Pipa Bengkok
Keterangan:
Terbuat dari gelas
Fungsi:
Untuk mengalirkan ke dalam suatu tempat tertutup atau kedalam larutan

7.
Gelas Arloji
Fungsi:
-untuk tempat menimbang zat yang berbentuk kristal dan tidak higroskopis
-untuk menguapkan larutan dalam jumlah sedikit
 
8.
Gelas Ukur
Keterangan:
Jangan digunakan untuk mengukur larutan yang panas
Fungsi:
-untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair
-mempunyaa skala terdiri dari bermacam-macam ukuran
 
9.
Gelas Piala/ gelas beaker
Keterangan:
Bukan alat pengukur (walaupun volume kira-kira)
Fungsi:
-tempat larutan
-untuk memanaskan (untuk menguapkan pelarut/memekatkan)
 
10.
Erlenmeyer
Keterangan:
Terbuat dari gelas
Fungsi:
-sebagai tempat larutan zat yang akan ditritasi
-untuk memanaskan larutan
 
11.
Labu Ukur
Keterangan:
-terbuat dari gelas
-mempunyai berbagai ukuran
Fungsi:
Untuk membuat larutan standar atau larutan tertentu dengan volume setepat mungkin
-untuk pengenceran dengan volume tertentu
 
12.
Buret
Keterangan:
-terbuat dari gelas
-mempunyai skala dan  keran
Fungsi:
Untuk titrasi atau sabagai tempat titrant yang dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui kran
 
13.
a. pipet gondok
Keterangan:
-bagian tengah dari pipet ini membesar
-ujungnya runcing
Fungsi:
Untuk mengambil larutan dengan volume tertentu dan tepat
 

b. pipet ukur
Keterangan:
Bagian tengah dari pipet ini sama besar (lurus)
-mempunyai skala
Fungsi:
Untuk mengambil larutan dengan volume tertentu
 

c. pipet tetes
Digunakan untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit
 
14.
Cawan Penguap
Keterangan:
Terbuat dari porselen, untuk menguapkan suatu larutan
 
15.
Botol Pencuci
Keterangan:
-terbuat dari plastik
-dilengkapi dengan pipa
-mempunyai skala
 
16.
Kasa Asbes
Keterangan:
-terbuat dari kawat/seng
-ditengahnya berlapis asbes
Fungsi:
Sebagai alas pada pemanasan alat-alat kaca yang berisi cairan atau larutan dengan maksud agar panasnya merata
 
17.
Segitiga Porselen
Keterangan:
Terbuat dari keramik
Fungsi:
Digunakan sebagai penopang cawan porselen yang akan dipanaskan diatas kaki tiga
 
18.
Kaki Tiga
Keterangan:
-terbuat dari besi
-merupakan alat penopang kasa asbes atau segitiga porselen yang ditumpangi alat kaca atau cawan porselen yang akan di panaskan
Fungsi:
Diantara ketiga kakinya, dapat ditempatkan pembakar bunsen atau alat pemanas lainnya
 
19.
Statif
Keterangan:
Terbuat dari besi
Fungsi:
Digunakan sebagai  alat penyangga buret dengan bantuan klem buret
 

                Agar mengerti tentang alat-alat yang sudah diperkenalkan tersebut, maka akan dilakukan percobaan, yang terpenting adalah bagaimana menggunakan alat-alat tersebut dengan baik dan bekerja benar.
1.       Pembuatan dan Pengenalan Suatu Gas
Gas NH3 adalah gas yang berbau menyengat. Gas ini dapat dihasilkan dengan mereaksikan larutan ammonium klorida dan natrium hidroksida yang kemudian dipanaskan. Adapun reaksinya adalah:
NH4Cl (s) + NaOH (aq)  dipanaskan  NH3 (g) + NaCl (aq) + H2O (l)
        Terbentuknya  gas dapat diketahui dari baunya. Dalam membaui tidak diperkenankan menghirup langsung gas yang berbahaya. Cara membaui adalah dengan mengipas-ngipaskan tangan di atas mulut tabung dan hidung berada pada jarak yang relatif jauh. Sementara untuk mengetahui sifat gas tersebut, latakkan kertas lakmus merah dan biru pada permukaan tabung. Namun, berdasarkan referensi-referensi yang ada, gas NH3 tergolong ke dalam sifat “basa”.
2.       Pengenceran dengan Labu Ukur
Untuk membuat suatu larutan standar, kita dapat melakukan percobaan pengenceran dimana dilakukan penambahan pelarut kedalam larutan yang akan diencerkan. Proses pengenceran merupakan suatu prosedur untuk menghasilkan larutan yang lebih encer dari larutan yang pekat agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Akan tetapi, kita perlu terlebih dahulu menentukan berapa banyak larutan standar yang akan dibuat dan hitung berapa banyak larutan asli yang harus diencerkan dengan menggunakan rumus persamaan:
Keterangan:
V1 = Volume larutan asli yang diperlukan      V2 = Volume larutan standar yang akan dibuat
M1 = Molaritas larutan asli                                   M2 = Molaritas larutan standar yang akan dibuat
        Dalam melakukan proses pengenceran, perlu bahwa penambahan lebih banyak pelarut ke dalam sejumlah tertentu larutan akan mengubah (mengurangi) konsentrasi larutan tanpa mengubah jumlah mol zat terlarut yang terdapat dalam larutan.
3.       Pengenceran H2SO4 Pekat
Untuk zat-zat yang jika direaksikan akan menunjukan reaksi ekstrem seperti pada asam sulfat (H2SO4) pekat, maka pengenceran dilakukan dengan menuangkan H2SO4 (sebagai zat yang akan diencerkan) pekat sedikit demi sedikit ke dalam air (pelarut).
4.       Penyaringan
Menyaring merupakan salah satu metode pemisahan, yaitu cara untuk memisahkan suatu endapan dari suatu larutan. Dalam percobaan ini akan dilakukan penyaringan PbSO4 yang dibuat dengan mereaksikan larutan H2SO4 dengan Pb-Asetat. Adapun reaksinya:
Pb(CH3COO)2 (aq) + H2SO4 (aq)                 PbSO4 (s) + 2 CH3COOH (aq)
5.       Titrasi Asam Basa
Titrasi asam basa merupakan suatu reaksi penetralan yang menghasilkan garam dan air. Pada tritasi larutan basa menggunakan larutan standar asam (Asidimetri) dan sebaliknya. Pada titrasi larutan asam menggunakan larutan standar basa (Alkalimetri). Prosedur analisis pada titrasi asam basa ini adalah dengan mengukur volume dari asam basa yang bereaksi sehingga proses ini disebut titrasi volumetri.
Tujuan tritasi adalah untuk menentukan banyaknya asam atau basa yang secara kimia tepat ekuivalen (setara) dengan banyaknya basa atau asam di dalam larutan. Selain itu titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titrant ditambahkan titer tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi) yang biasanya ditandai perubahan warna indikator seperti indikator PP, Metil Merah, Metil Jingga, Bromtimol Biru, dll.
Text Box: VA . MA . nA = VB . MB . nBKeadaan ini disebut “titik ekuivalen” yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa  = . Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator yang disebut “titik akhir titrasi”. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan rumus titrasi asam basa, yaitu:


Keterangan:
VA = Volume asam                          VB = Volume basa
MA = Konsentrasi asam                                MB = Konsentrasi basa
 nA= Valensi asam                           nB = Valensi basa
A.      Label dan Penyimpanan Bahan Kimia
Pemberian label terhadap jenis – jenis bahan kimia diperlukan untuk dapat mengenal dengan cepat dan mudah sifat bahaya dari suatu bahan kimia. Pengenalan dengan label ini  amat penting dalam penanganannya, transportasi dan penyimpanan bahan-bahan atau pergudangan. Cara penyimpanan bahan-bahan kimia memerlukan pengetahuan dasar akan sifat bahaya serta kemungkinan interaksi antara bahan serta kondisi yang mempengaruhinya.
LABEL ATAU SIMBOL BAHAYA
·         Mudah Meledak (EXPLOSIVE)
Bahaya : eksplosif pada kondisi tertentu
Keamanan: hindari benturan, gesekan, loncatan api dan panas
Penyimpanan: ruangan dingin dan berventilasi
Contoh: ammonium nitrat, nitroselulosa
·         Pengoksidasi (OXIDIZING AGENT)
Bahaya: oksidator,dapat membakar bahan lain, penyebab timbulnya api atau penyebab kesulitan dalam pemadaman api
Keamananan: hindari panas serta bahan mudah terbakar dan reduktor
Penyimpanan: suhu ruangan dingin berventilasi
Contoh: H2O2 dan Kalium Perklorat
·         Mudah Terbakar (FLAMMABLE)
1.       Zat terbakar langsung
Contoh: Aluminium alkil posfor
Keamanan: hindari campuran dengan udara
2.       Gas amat mudah terbakar
Contoh: Butana, propana
Keamanan: hindari campuran dengan udara dan sumber api
3.       Zat sensitif terhadap air
Zat membentuk gas mudah terbakar bila kena air atau uap. Contoh: Natrium
4.       Cairan mudah terbakar
Cairan dengan flash point dibawah 21⁰C. Contoh: aseton dan benzena
Keamanan: jauhkan dari api terbuka, sumber api dan loncatan api.
·         Beracun (TOXIC)
Bahaya: berbahaya bagi kesehatan bila terisap, tertelan, atau kontak dengan kulit, dan juga dapat mematikan
Keamanan: hindari kontak atau masuk kedalam tubuh, segera berobat ke dokter bila kemungkinan beracun
Contoh: Arsen triklorida, Merkuri klorida
·         Berbahaya (HARMFULL)
Bahaya: menimbulkan kerusakan kecil pada tubuh
Keamanan: hindari kontak dengan tubuh atau hindari penghirupan, segera berobat bila terkena bahan
Contoh: piridin
·         Korosif (CORROSIVE)
Bahaya: korosif atau merusak jaringan atau tubuh manusia
Contoh: belerang dioksida dan klor
Keamanan: hindari kontaminasi pernapasan, kontak dengan kulit dan mata
Penyimpanan: ruangan dingin berventilasi , wadah tertutup dan bertiket
·         Pengiritasi (IRRITANT)
Bahaya: iritasi terhadap kulit, mata, dan alat pernapasan
Contoh: Amonia dan benzil klorida
Keamananan: hindari kontaminasi udara, pernapasan kontak dengan kulit dan mata

B.      Syarat-syarat Penyimpanan Bahan
Mengingat bahaya sering terjadi kebakaran, ledakan atau bocornya bahan-bahan kimia beracun dalam gudang, maka penyimpanan bahan-bahan kimia beberapa kemungkinan dibawah ini perlu diperhatikan.
a.       Pengaruh panas/api
Kenaikan suhu akan menyebabkan reaksi atau perubahan kimia terjadi dan mempercepat reaksi. Juga percikan api berbahaya untuk bahan-bahan mudah terbakar.
b.      Pengaruh kelembaban
Zat-zat higroskopis mudah menyerap uap air dari udara dan reaksi hidrasi yang eksotennis menimbulkan pemanasan ruang.
c.       Interaksi dengan wadah
Bahan kimia dapat berinteraksi dengan wadahnya dan bocor
d.      Interaksi antar bahan
Kemungkinan interaksi antar bahan dapat menimbulkan ledakan, kebakaran atau timbulnya gas beracun.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor diatas, beberapa syarat penyimpanan bahan secara singkat adalah sebagai berikut:
1.       Bahan beracun
Contoh : Sianida
Syarat penyimpanan: ruangan dingin dan berventilasi, jauh dari bahaya kebakaran, dipisahkan dari bahan – bahan yang mungkin bereaksi, disediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, gloves.
2.       Bahan korosif
Contoh: asam-asam
Syarat penyimpanan: ruangan dingin dan berventilasi, wadah terrtutup dan bertikiket, dipisahkan dari zat-zat beracun.
3.       Bahan mudah terbakar
contoh: benzena, eter
syarat penyimpanan: suhu dingin dan  berventilasi, jauhkan dari sumber api atau panas, terutama loncatan api, listrik, dan bara rokok, tersedian alat pemadam kebakaran.
4.       Bahan mudah meledak
Contoh: Ammonium nitrat
Syarat penyimpanan: ruangan dingin dan berventilasi, jauhkan dari sumber api atau panas, hindarkan dari gesekan dan tumbukan mekanis
5.       Bahan oksidator
Contoh: Peroksida organic
Syarat penyimpanan: suhu ruangan dingin dan berventilasi, jauhkan dari sumber api dan panas termasuk loncatan api, listrik dan bara rokok, jauhkan dari bahan-bahan cairan mudah terbakar atau reduktor
6.       Bahan reaktif terhadap air
Contoh: Natrium
Syarat penyimpanan: suhu ruangan dingin, kering dan berventilasi, jauh dari sumber panas , bangunan kedap air, disediakan pemadam kebakaran tanpa air (CO2, Halon, dry powder)
7.       Bahan reaktif terhadap asam
Contoh: Natrium, Hibrida, asam. Zat-zat tersebut kebanyakan dengan asam menghasilkan gas yang mudah terbakar atau beracun
Syarat penyimpanan: ruangan dingin berventilasi, jauhkan dari sumber api, panas, dan asam, ruangan penyimpananperlu didesain agar tidak memungkinkan terbentuk kantong-kantong hidrogen. Disediakan alat pelindung diri seperti kacamata, gloves, dan pakaian kerja.
8.       Gas bertekanan
Contoh:   gas N2, Asetilen, H2, dan Cl2 dalam silinder
Syarat penyimpanan: disimpan dalam keadaan tegak berdiri dan terikat, ruangan dingin dan tidak terkena langsung matahari, jauhkan dari api dan panas, jauh dari bahaya korosif yang dapat merusak kran dan katub-katub.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar